Kamis, 04 November 2010

Skripsi-HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


1
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 bab II Pasal 3 memuat fungsi dan tujuan yang hendak dicapai yaitu Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Untuk mengamankan, mendukung dan melaksanakan Undang-undang tersebut diperlukan kerja sama yang baik antara keluarga, pemerintah (sekolah ) dan masyarakat yang sering disebut Tiga Pusat Pendidikan. Tujuan tersebut bisa terwujud apabila ada keseriusan dari semua komponen yang terkait dalam pelaksanaannya, yaitu dari pemerintah sendiri, keluarga yang mempunyai anak, dan masyarakat. Pemerintah untuk melaksanakan UUSPN tersebut sudah berupaya mempersiapkan segala unsur pendukungnya anta lain: Kurikulum pendidikan disemua jenjang pendidikan diperbaharuhi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, tenaga pengajar/guru ditingkatkan kemampuannya melalui pendidikan dan latihan/diklat dan penataran-penataran serta seminar-seminar pendidikan, buku-buku pegangan baik pegangan guru maupun pegangan murid diperbaharui dan didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional tersebut senantiasa beupaya meningkatkan kemampuan dirinya melalui MGMP, dimana dalam forum tersebut segala persoalan guru dalam bidang pendidikan diungkapkan, dimusyawarahkan, dicari pemecahan / solusinya serta diupayakan bagaimana penerapannya di sekolah. Di sekolah dalam kegiatan pembelajaran, guru menerapkan berbagai metode metode, menggunakan media pendidikan yang lengkap dan sesuai kebutuhan, tampil di depan siswanya dengan simpatik, bertutur kata yang baik yang mencerminkan seorang pendidik, memberikan pelajaran tambahan atau les bagi siswa yang membutuhkan, memberikan pelajaran perbaikan bagi siswa yang prestasinya rendah, memberikan pelajaran pengayaan bagi siswa yang prestasinya baik dan memberikan latihan ketrampilan sebagai langkah peningkatan penguasaan konsep dasar bagi siswanya serta berbagai upaya lainnya. Semua upaya yang dilakukan guru adalah dalam rangka melaksanakan layanan bimbingan belajar bagi siswanya agar siswa dengan mudah mampu menerima, memahami, dan menguasai materi pelajaran yang harus dikuasainnya sehingga siswa akan mampu mengerjakan tugas-tugas atau soal-soal dengan baik. Harapan yang ingin dicapai oleh guru dengan semua upayanya tersebut adalah mewujudkan siswa yang berprestasi dalam belajarnya, yang diwujudkan dalam bentuk nilai yang tinggi, yang kelak dapat menjadi modal melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga para siswa dapat mencapai cita-citanya.
Dengan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang luas siswa akan mampu menguasai teknologi yang sudah maju dengan pesatnya. Selain memberikan pendidikan umum, sekolah juga memberikan pendidikan agama.Diberikannya pendidikan agama di sekolah diharapkan para siswa kelak akan menjadi orang-orang yang beriman kepada Tuhan sehingga lengkaplah mereka akan menjadi orang yang menguasai Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan Imtak (iman dan takwa) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional.
Harapan tersebut dapat terwujud apabila siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Teman-teman di sekolan yang baik juga bisa mempengaruhi motivasi belajar teman sekelasnya. Warga masyarakat yang berpendidikan, berwawasan luas dan memiliki cita-cita mmemajukan lingkungan khususnya dan bangsanya pada umumnya juga merupakan sumbangan yang tak ternilai bagi perkembangan kemajuan belajar para siswa, utamanya dalam mendorong para siswa untuk memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sekolah yang berkualitas, guru-guru yang memiliki komitmen yang tinggi dan disiplin terhadap tugasnya,teman-teman yang baik, orang tua yang berpendidikan dan berpandangan luas dan disiplin dalam mendidik anak, warga masyarakat yang mendukung belajar siswa dan berpandangan maju, merupakan dampak berhasilnya cita-cita lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan nasional yang ingin dicapai sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional.
Keadaan ekonomi negara yang terpuruk, harga barang –barang kebutuhan pokok yang semakin melambung, beaya sekolah anak yang semakin tidak terjangkau, utamanya dijenjang pendidikan lanjutan sampai perguruan tinggi, memberi dampak buruk kepada warga masyarakat utamanya warga masyarakat bawah , yang nota bene adalah orang – orang yang kurang mampu , untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari saja repot , sehingga orang tua sangat sibuk mencari uang dengan bekerja keras , sehingga lupa kewajibannya yang justru lebih utama yaitu memberikan perhatian kepada keluarga utamannya anak – anak , bagaimana perilaku anak- anak , bagaimana ibadahnya , bagaimana belajarnya , bagaimana pergaulannya dengan teman – temannya , apakah anak – anak bergaul dengan anak – anak yang baik , apakah anak-anak disiplin dalam melaksanaan ibadah kepada Tuhan , apakah anak-anak belajar dengan baik dan tekun , apakah perilaku anak-anak baik dan sopan , apakah anak-anak cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dan sebagainya –dan sebagainya. Kondisi keuangan negara , dan kurang seriusnya pemerintah dalam memperhatikan kesejahteraan pegawai negeri utamanya gaji , menyebabkan sebagian besar pegawai negeri termasuk guru hidupnya tidak sejahtera atau kekurangan , sehingga mereka disibukkan untuk bekerja keras mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang dirasa semakin berat . Kondisi seperti ini menyebabkan guru kurang disiplin dalam menjalankan kewajibannya , sehingga terkesan pekerjaan utamanya sebagai guru malah menjadi sambilan , dan ngobnyeknya kesana-kemari menjadi tugas pokoknya .Meskipun hal tersebut dilakukan karena tuntutan kebutuhan, namun pengaruhnya sangat besar bagi para siswa yang menjadi tanggungjawab guru , yang seharusnya dididik dengan benar dan mendapatkan teladan dari guru yang baik juga . Jika masalah tersebut tidak ada penyelesaian yang serius , maka jangan harap para siswa akan bertingkah laku yang baik sebagaimana diharapkan oleh UUSPN . Kondisi seperti ini masih diperburuk lagi dengan semakin beredarnya obat-obat terlarang, dan narkoba, gambar-gambar porno, VCD porno, dimana pengedar dan konsumennya sudah merambah kepada mahasiswa,pelajar SMA, SMP bahkan pelajar sekolah dasar.Ditambah lagi banyak tayangan Televisi yang tidak mendidik sehingga kalau dibiarkan terus akan merusak pendidikan dan masa depan bangsa Indonesia. Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar Siswa
B. Identifikasi Masalah.
Ada banyak masalah yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Tidak terkecuali prestasi belajar siswa-siswa di SMP 3 Limpung Kabupaten Batang. Pencapaian prestasi belajar siswa SMP 3 Limpung Kabupaten Batang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan lebih mudah dalam mencapai prestasi belajar yang diinginkan namun yang terjadi masih banyak siswa yang belum memahami dan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal itu terlihat dari masih ada siswa yang malas belajar, tidak konsentrasi dalam menerima pelajaran, kurang semangat dalam belajar dan lain-lain padahal motivasi belajar erat hubungannya dengan prestasi belajar siswa.
2. Orang tua yang memiliki status ekonomi baik akan mempu memberikan sarana belajar bagi siswa-siswanya. Namun yang terjadi adalah sebagian besar siswa SMP 3 Limpung status sosial ekonominya masih rendah. Orang tua siswa adalah anak petani dan buruh yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebuthuan anak-anaknya. Padahal status sosial ekonomi orang tua ada hubungannya dengan prestasi belajar.
3. Siswa yang memiliki minat belajar akan lebih memungkinkan mereka untuk mencapai prestasi belajar yang diinginkan sebaliknya jika siswa kurang memiliki minat belajar maka siswa akan sulit untuk mencapai prestasi belajarnya. Sebagian besar siswa kelas VII SMP 3 Limpung belum memiliki minat belajar yang cukup, hal itu nampak dari perilaku siswa yang kurang semangat dalam belajar. Padahal minat belajar ada hubungannya dengan prestasi belajar.
4. Belajar membutuhkan sarana dan prasarana misal buku, peralatan sekolah, fasilitas sekolah SMP 3 Limpung masih kurang dalam memenuhi kebutuhan siswa terhadap keberadaan fasilitas sekolah. Misal jumlah gedung, ruang praktik, komputer dan lain-lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekurangan sarana belajar menghambat pencapaian prestasi belajar.
5. Orang tua yang memperhatikan jam belajar siswa, mendorong anak-anaknya untuk belajar, pengawasan daro orang tua akan menunjang prestasi belajar siswa, Namun kenyataanya banyak orang tua yang menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah saja sedang orang tua bersikap masa bodoh, tidak memperhatikan jam belajar, memberi perhatian yang lebih kepada anak-anaknya dan lain-lain. Dengan demikian perhatian orang tua ada hubungannya dengan prestasi belajar.
6. Suasana di rumah yang harmonis, damai, dan tenteram akan mendorong siswa untuk betah di rumah dan belajar dengan baik sehingga siswa akan lebih mampu mencapai hasil belajar yang memadai. Dengan demikian keadaan keluarga ada hubungannya dengan prestasi belajar artinya.
7. Sebagian guru telah menggunakan metode belajar yang modern dan inovativ sedangkan sebagian lainnya masih menggunakan metode konvensional. Metode mengajar yang inovativ lebih memungkinkan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pelajaran, sehingga prestasi belajarnya lebih meningkat. Dengan demikian metode mengajar guru ada hubungannya dengan prestasi belajar..
8. Dalam tes intelegensi diketahui bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat intelegensi yang normal dan dibawah normal sehingga pencapaian prestasi belajar siswa tidak begitu menonjol. Dengan demikian kecerdasan atau intelegensi ada hubungannya dengan prestasi belajar.
C. Pembatasan masalah.
Tidak semua masalah yang teridentifikasi dibahas dalam penelitian ini, hal ini dilakukan agar pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terarah sebagaimana judul penelitian ini, untuk itu dibuat pembatasan masalah. Dalam peneltian ini pembatasan masalahnya yaitu prestasi belajar ada hubungannnya dengan motivasi belajar .
D. Rumusan masalah.
Berdasarkan pembatasan masalah dalam penelitian ini, maka masalah–masalah yang dapat dirumuskan adalah apakah ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dengan Prestasi belajar siswa Kelas VII SMP N 3 Limpung semester 2 Tahun Pelajaran 2009/2010 ?
E. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan yang dilakukan manusia pada umumnya tidak lepas dari tujuan yang akan dicapai.Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan motivasi belajar siswa kelas VII SMP N 3 Limpung semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011
2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan prestasi belajar siswa kelas VII SMP N 3 Limpung semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011
3. Untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP N 3 Limpung semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan ada kegunaannya, baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis sebagai tindak lanjutnya.
1. Kegunaan yang bersifat teoritis adalah kegunaan bagi ilmu pengetahuan yaitu memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu bimbingan dan konseling.
2. Kegunaan yang bersifat praktis adalah :
a. Bagi SMP N 3 Limpung ,sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara para pendidik agar meningkatkan perhatiannya terhadap factor-faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa.
b. Bagi siswa agar meningkatkan motivasi belajarnya sehingga prestasi belajarnya meningkat .
c. Bagi orang tua siswa dapat menjadi acuan dan bahan pertimbangan dalam membimbing putra-putrinya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Motivasi Belajar siswa
1. Pengertian motivasi
Berbagai ahli memberikan definisi tentang motivasi. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek. Motif juga berari kesiap-siagaan. (Sardiman AM.1996.73). Motivasi merupakan proses membangkitkan, mempertahankan dan mengontrol minat -minat (Oemar Hamalik, 1996: 173). Pengertian lain juga dikemukakan oleh Mc. Donald yaitu suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Oemar Hamalik,1996 :173). Sedangkan menurut Sardiman AM (1996:73) motivasi diartikan sebagai daya pengerak yang telah menjadi aktif. Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2004 : 2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.(Sb:Sunartombs. wordpress.com ).

9
Menurut Hermine Marshall dalam Carole (dalam http:// Sunartombs .wordpress.com) istilah motivasi belajar mempunyai arti yang sedikit berbeda. Ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pendapat lain motivasi belajar itu ditandai oleh jangka panjang, kualitas keterlibatan di dalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses belajar.
Pengertian motivasi menurut Wexly dan Yulk ( dalam http:// motivasibelajar.net) adalah pemberian atau penimbulan motif. Sedangkan menurut Mitchell motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan motivasi sebagai dorongan yang muncul dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan. Motivasi selalu bergayut dengan kebutuhan manusia. Jika kebutuhan ada tingkatan maka motivasi juga memiliki tingkatan. Jika kebutuhan dasar telah terpenuhi maka akan muncul motivasi untuk memenuhi kebutuhan tingkat berikutnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha bagi para siswa. Perlu ditegaskan,bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Seperti seseorang pelajar giat belajar karena bertujuan untuk mendapakan nilai yang baik.juga para pemain sepak bola ingin berlatih tanpa mengenal lelah karena mempunyai tujuan mendapatkan kemenangan dalam setiap pertandingan yang dilakukannya.
2. Fungsi motivasi
Sehubungan dengan hal tersebut, ada tiga fungsi motivasi :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor pengerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menentukan arah perbuatan , yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan,yakni menentukan perbuatan – perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan – perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain – main.
3. Macam-macam motivasi
Macam-macam motivasi dapat dilihat dari sudut pandang mana kita melihat. Beberapa ahli membagi motivasi dalam berbagai bentuk.Ahli-ahli tersebut antara lain :
a. Woodworth dan Marguis membagi motivasi menjadi :
1) Motif atau kebutuhan organis
2) Motif-motif darurat
3) Motif-motif obyektif ( Sardiman,1996:86 )
Motif atau kebutuhan organis, meliputi : kebutuhan untuk minum, makan, seksual, berbuat dan beristirahat. Motif-motif darurat ,yang termasu jenis motif ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbulmkarena rangsangan dari luar. Motif-motif obyektif, dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapatmenghadapi dunia luar secara efektif.
b) Pembagian lain adalah membagi motivasi intrinsic dan motivasi eksterinsik.(Sadirman,AM,1996:85)
1) Motivasi intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsic adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiapindividu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu . Sebagai contoh seseorang yang senangnya membaca, tidak usah ada yang menyutuh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsic adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh kongkrit, seorang siswa ingin melakukan belajar , karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan ,nilai, atau keterampilan agar berubah tingkah lakunya secara konstrutif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Motivasi instrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya.
Perlu diketahui bahwa siswa memiliki motivasi instrisik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik ,berpengetahuan dan ahli dalam bidang studi tertentu . Satu-satunya jalan untuk menuju ketujuan yang ingin dicapai ialah belajar,tanpa belajar tidak mungkin tujuannya bisa tercapai .Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengalaman. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbul dan seremonial.
2). Motivasi Eksterinsik
Motivasi eksterinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dati luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besuk paginya akan ujian dengan harapan mendapat nilai baik,sehingga akan dipuji oleh pacarnya,atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetap iangin mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah.Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung dengan esensi apa yang dilakuannyaitu. Oleh karena itu motivasi eksterinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi eksterinsik ini tidak baik dan tidak penting.. Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting. Sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar nengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah proses membangkitkan minat-minat yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi. Untuk mencapai tujuan belajar yaitu didapatkannya kecakapan baru.
Motivasi dalam belajar merupakan salah satu faktor psikologis yang penting karena menyangkut apa yang akan dipelajari dan mengapa hal tersebut dipelajari. Motivasi untuk belajar menurut Maslow adalah sebagai berikut:
a. Adanya kebutuhan fisik
b. Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas dari ketakutan
c. Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain.
d. Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan dari masyarakat.
e. Untuk mengetengahkan diri atau mengemukakan diri. (Sardiman AM,1996).
B. Prestasi Belajar siswa
1. Pengertian Prestasi
Menurut Abu Muhamad (2008:2) yang disebut prestasi adalah hasil usaha atau setidaknya selalu dihubungkan dengan aktifitas tertentu. Sedangkan menurut Ridwan (2008:3) prestasi adalah hasil yang diperoleh karena aktifitas belajar yang telah dilakukan
2. Pengertian Belajar
Belajar sering diartikan sebagai penambahan, perluasan, dan pendalaman pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan. Secara konsep- tual Fontana dikutip Udin (2008:18) mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Seperti Fontana, Gagne dikutip Udin (2008) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Menurut Thursan Hakim (2005:1) belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
Menurut Slameto (2003:2) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
M. Sobry Sutikno (2007:5) mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Skinner yang di kutip oleh Dimyati dan Mudjiono (1999:9) dalam bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku.Menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning yang dikutip oleh Ngalim Purwanto (1996:84) belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disintesiskan bahwa belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Jika di dalam proses belajar tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
3. Pengertian Prestasi Belajar
Belajar merupakan kata kerja yang tentu saja memiliki pengertian yang beragam. Pengertian prestasi belajar menurut Purwanto yang dikutip Ridwan (2008:2) prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan. Sedangkan menurut Muhibin yang dikutip Abu Muhamad (2008:30 dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Dengan demikian pengertian prestasi belajar dapat diberikan batasan sebagai berikut : Prestasi belajar adalah hasil kerja belajar seseorang yang diperoleh atau dicapai dengan kemampuan yang optimal dalam tes sebagaimana yang dinyatakan dalam skor pada raport. Prestasi belajar dapat dinyatakan dalam proporsi sebagai berikut :Pertama, hasil belajar murid merupakan ukuran keberhasilan guru dengan anggapan bahwa fungsi penting guru dalam mengajar adalah untuk meningkatkan prestasi beajar murid. Kedua , hasil belajar murid mengukur apa yang telah dicapai murid, Ketiga, hasil,belajar ( achievement ) itu sendiri diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
4. Indikator hasil belajar
Untuk mengetahui bahwa siswa sudah mencapai hasil belajar atau belum perlu ditentukan suatu indikator hasil belajar. Indikator hasil belajar merupakan uraian kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam berkomunikasi secara spesifik serta dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil belajar (Sugandi,2004:63). Guru memiliki kewajiban untuk mengukur menilai keberhasilan siswa dalam belajar. Selama proses ini guru dapat menilai apakah siswa telah mencapai suatu hasil belajar yang ditunjukan dengan pencapaian beberapa indikator hasil belajar tersebut
5. Faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor - faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.
a. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.

1) Kecerdasan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.” Kartono menyatakan bahwa “ bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut Syah Muhibbin mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.”
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar anak bidang-bidang studi tertentu.
Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.
3) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.
Menurut Winkel minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai
dengan rasasayang. ”Kemudian Sardiman mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atauarti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.”
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
4) Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Nasution mengatakan motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.” Sedangkan Sardiman mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukansesuatu.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto, faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.
1) Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.” Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.
2) Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya. Menurut Kartono mengemukakan “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.
3) Lingkungan Masyarakat
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada.
6. Syarat-syarat Prestasi Belajar
Menurut Slameto yang dikutip Edi Haryanto (2005:21) bahwa syarat-syarat tercapainya prestasi belajar antara lain :
a. Sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
b. Pengetahuan dan ketrampilan dasar belajar
c. Motivasi,minat dan beaya yang cukup
d. Emosi yang stabil
e. Mental psikologis
f. Kesehatan fisik yang prima
g. Situasi dan proses belajar mengajar yang merangsang
h. Metode mengajar yang bervariasi dan menarik
i. Alat dan sumber belajar yang lengkap dan tepat
j. Beban belajar yang sesuai
k. Hubungan guru dengan siswa yang baik
l. Pergaulan dengan teman yang baik
m. Situasi rumah yang mendorong siswa belajar
7. Faktor psikologis dalam belajar
Proses belajar dan hasil belajar dipengaruhi oleh dua kelompok faktor yaitu faktor yang ebrasal dari diri individu dan dari luar individu. Faktor yang berasal dari diri individu terdiri dari faktor psikis dan fisik. Faktor psikologis terdiri dari kognitif, afektif, psikomotor, campuran dan kepribadian ( Tim Penulis Buku Psikologi pendidikan, 1991:63).
Menurut Slameto (2003:34) keberhasilan siswa dalam belajar juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dari siswa tersebut yaitu :
a. Intelegensi.
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan mrnyesuikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
b. Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek atau sekumpulan obyek.
c. Minat
Minat adalah kecenderungan untuk belajar.yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan . Kegiatan yang diminati seseorang , diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang .
d. Bakat .
Bakat adalah kemampuan untuk belajar.. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
e. Motiv .
Motiv adalah penggerak / pendorong untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai .
f. Kematangan .
Kematangan adalah suatu tingkat / fase dalam pertumbuhan seseorang , dimana alat – alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru .
g. Kesiapan .
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respons atau bereaksi. Berdasarkan uraian tersebut diaas maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dalam mencapai prestasi beljar dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat komplek baik faktor yang berasal dari dalam individu ataupun dari luar individu, juga faktor yang bersifat fisik maupun psikologis. Kemampuan seseorang dalam mengelola berbagai faktor tersebut akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mencapai presatsi belajarnya.
C. Kerangka berfikir
Salah satu faktor psikologis keberhasilan dalam belajar adalah adanya motiv pada diri siswa . Motiv merupakan penggerak / pendorong untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Seorang itu akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Inilah prisip dan hokum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran.
Motiv juga berfungsi menentukan arah perbuatan artinya dengan motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan yaitu mencapai prestasi belajar.
Selain memberikan dorongan dan menentukan arah perbuatan, motiv juga berfungsi menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan – perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan – perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain – main.
Dari kenyataan tersebut maka untuk meningkatkan prestasi belajar siswa maka harus ditimbulkan atau dimunculkan adanya motivasi pada diri siswa baik motivasi yang berasal pada diri siswa sendiri ataupun yang berasal dari luar diri siswa.
Semakin tinggi atau besar motivasi belajar pada diri siswa maka semakin besar kemungkinan peningkatan prestasi belajar siswa tersebut.
D. Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto ( 1998:67 ) menjelaskan bahwa yang dimaksud hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Menurut Sujana ( 1994:50) mengemukakan bahwa hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah, sehingga harus diuji secara empiris. Menurut KBBI , hipotesis adalah sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.
Dengan demikian yang dimaksud hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah, sehingga harus diuji secara empiris melalui data-data yang terkumpul. Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang pada semester II Tahun pelajaran 2009 / 2010 “.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Suharsimi Arikunto (1998:80) mengatakan bahwa jenis pendekatan penelitian ada beberapa macam,antara lain :
1. Pendekatan menurut tekhnik samplingnya :
a. Pendekatan populasi yaitu pendekatan penelitian yang meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian.
b. Pendekatan sample yaitu pendekatan penelitian yang meneliti sebagian dari populasi.
c. Pendekatan kasus yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu orgamisasi, lembaga atau gejala tertentu.
Yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sampel, sebab tidak semua populasi diteliti.
2. Pendekatan menurut timbulnya variabel :
a. Pendekatan non eksperimen
b. Pendekatan eksperimen
3. Pendekatan menurut pola atau sifat penelitian :
a. Penelitian kasus (case-studies)
b. Penelitian kausal komparatif.
c. Penelitian korelasi
d.

28
Penelitian histories
e. Penelitian filosofis
4. Jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan adalah :
a. One shot model, yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada “suatu saat”
b. “Longitudinal model, yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara “ mengikuti “ perkembangan bagi individu-individu yang sama.
c. Cross-sectional model, yaitu gabungan antara model a dan b, untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekaligus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengambil subyek dari berbagai tingkat umur.
Sedangkan S.Margono (2004:15) berpendapat jenis pendekatan penelitian ada dua :
a. Pendekatan kuantitatif , yaitu pendekatan penelitian yang lebih banyak menggunakan logika hipotetiko vertikatif, lebih menekankan pada indeks-indeks dan pengukuran empiris semua informasi diwujudkan dalam bentuk kuntitatif atau angka. Analisisnya dengan analisis statistik.
b. Pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang lebih mementingkan analisis isi daripada symbol atau atribut informasi atau data yang dikumpulkan tersebut dengan wujud kata-kata tertulis atau lisan dan analisisnya dengan prinsip logic.
Berdasarkan uraian diatas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan :
a. Sampel, karena tidak seluruh populasi diteliti, hanya diambil sebagian tetapi mewakili.
b. Pendekatan korelasi, karena penelitian ini untuk mencari seberapa besar taraf hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya.
c. Pendekatan Cross-sectional model, sebab data yang dikumpulkan lebih lengkap dalam waktu yang cepat/singkat.
d. Pendekatan kuantitatif, karena semua informasi atau data diwujudkan dalam bentuk angka, dan dianalisis menggunakan statistik.
B. Tempat dan waktu peneltian
1. Tempat penelitian
Tempat penelitian ini di SMP N 3 Limpung, Kabupaten Batang, subyek yang diambil siswa kelas VII pada semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011
2. Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2010 sampai dengan bulan Agustus 2010.
C. Populasi, Sampel Dan Tekhnik Pengambilan Sampling
1. Populasi
Menurut Sutrisno Hadi poulasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat sama (1996:20). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (1998:115). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi semua siswa kelas VII SMP N 3 Limpung,Batang Tahun Pelajaran 2010/2011, yang berjumlah 118 siswa, yang dibagi dalam 3 kelas. Secara rinci jumlah masing – masing kelas dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 1
Populasi Penelitian
No
Kelas
Jumlah
1.
I A
40
2.
I B
39
3.
I C
39
Jumlah
118
2. Sampel Penelitian
Menurut Sutrisno Hadi (1996:70). sampel adalah sebagai sebagian individu yang diselidiki Menurut Suharsumi Arikunto (1998:104) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti
Mengacu pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian populasi yang memiliki sifat dan karakteristik sama dengan populasi yang diselidiki yang dapat mewakili anggota populasi secara keseluruhan. Untuk menentukan subjek penelitian diambil dari pendapat Suharsimi Arikunto yang menyatakan apabila subjek kurang dari seratus lebih baik diambil semua individu dan jika lebih dari seratus dapat diambil 10%, 20% sampai 25% atau lebih (1998:107)
3. Teknik Sampling
Sutrisno Hadi (1996:222).berpendapat bahwa sampling adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sampel. Selanjutnya dia membagi jenis sampling sebagai berikut.
a. Proportional sampling
b. Stratifical sampling
c. Quota sampling
d. Insidental sampling
e. Area sampling
f. Cluster sampling
g. Doubel sampling
h. Combinet sampling
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:123) pengambilan sampel dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Teknik sampling untuk populasi homogen, random sampling adalah pengambilan sampel dengan cara acak. Dengan demikian semua subjek berhak untuk dapat menjadi anggota sampel. Cara yang digunakan dalam teknik ini adalah:
1) Cara undian (untung-untungan)
2) Cara ordinal (tingkatan sama)
3) Menggunakan tabel bilangan random
b. Teknik sampling untuk populasi tidak homogen.
1) Sampel berstrata atau stratified sample
2) Sampel wilayah dan area probabilitas sample
3) Sampel imbangan atau proportional sample
4) Sampel bertujuaan dan atau purposif sample
5) Sampel kuota atau quota sample
6) Sampel kembar atau double sample
Dalam penelitian ini digunakan kombinasi dari dua teknik sampling, sehingga teknik ini dipakai karena jumlah subjek yang akan diselidiki ditetapkan lebih dulu dengan proposional tertentu sekitar 25 % dari 118 siswa atau berjumlah 30 siswa.
Tekhnik yang digunakan dalam pengambilan sample adalah random sampling. Dalam penelitian ini menggunakan sampel, sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik random sampling dengan undian. Menurut Nasution random sampling semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama beri kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Adapun alasan penulis menggunakan random sampling adalah:
a. Dapat bekerja lebih teliti karena objek yang dihadapi terbatas
b. Agar penelitian ini dapat digeneralisasikan pada subjek yang lebih besar
c. lebih efisien waktu, tenaga dan biaya.
Teknik ini dipakai karena tiap-tiap individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Disamping itu dengan cara random sampling ini akan lebih representatif. Adapun langkah-langkah pengambilan sampel menurut Sutrisno Hadi (1997:76) adalah sebagai berikut.:
a. Membuat suatu daftar subjek yang ada dalam populasi
b. menulis kode – kode tersebut masing-masing kedalam suatu lembar kertas kecil
c. Menggulung-gulung kertas tersebut dan masukkan kedalam kaleng.
d. Sebelumnya memberi kode berupa angka yang ada dalam populasi
e. Mengocok kaleng tersebut
f. Mengambil kertas itu sebanyak subjek yang dibutuhkan
Berdasarkan pendapat diatas besarnya sampel yang diambil sebanyak 25 % dari populasi. Jadi dari 118 siswa adalah 30 siswa..
Tabel 2
Sampel penelitian
NO
Kelas
Jumlah siswa
Hitungan
Jumlah
1.
I A
40
25/100 x 40 = 10
10
2.
I B
39
25/100 x 39 = 9,75
10
3.
I C
39
25/100 x 39 = 9,75
10
Jumlah
118
30
D. Variabel penelitian
1. Pengertian Variabel
a. Menurut Sutrisno Hadi (1996 :24) “Istilah variabel diartikan sebagai gejala yang bervariasi.gejala adalah semua objek yang menjadi sasaran penelitian , sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa yang akan diteliti”
b. Menurut Suharsimi Arikunto (1998:111) variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Berdasarkan pendapat-pendapt diatas dapat disimpulkan bahwa variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian.
2. Macam-macam Variabel
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:97) variabel dibedakan menjadi dua yaitu variabel kuantitatif dan kualitatif”. Variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu :
a. Variabel diskrit, disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik karena hanya dikategorikan atas dua kutub yang berlawanan yakni “ya” dan “ tidak “
b. Variabel kontinum dipisahkan menjadi tiga variabel kecil yaitu:
a) Variabel ordinal yaitu variabel yang menunjukkan tingkatan- tingkatan misalnya panjang, kurang panjang, pendek.
b) Variabel interval yaitu variabel yang mempunyai jarak,jika disbanding dengan variabel lain, sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti. Misalnya suhu udara diluar 31 derajat celcius, suhu tubuh kita 37 derajat celcius. Maka selisih suhu adalah 6 derajat celcius.
c) Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan.Variabel ini dalam hubungan antar sesamanya merupakan “sekian kali”.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan satu variabel terikat sebagai berikut:
a. Variabel bebas (X ) yaitu Motivasi belajar siswa
b. Variabel terikat (Y) yaitu Prestasi belajar siswa
E. Teknik Pengumpulan data
Suharsimi Arikunto ( 1998:138) mengemukakan bahwa dalam usaha untuk mengumpulkan data penelitian maka digunakan berbagai macam metode pengumpulan data yaitu, tes, angket ( kuesioner ), interviu, observasi, skala bertingkat dan dokumentasi.
Dengan berbagai macam pertimbangan maka dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode angket dan metode dokumentasi.
1. Metode Angket
a. Pengertian
Metode angket ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang hubungan antara motivasi belajar dengan status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar. Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.(1998:140) bentuk angket ini menggunakan skala bertingkat yaitu sejumlah pertanyaan baik positif mupun negatif.
b. Macam-macam angket
Angket dapat dibedakan menurut sudut pandang yaitu:
1) Dipandang dari cara menjawab, maka ada :
a) Kuisioner terbuka yaitu kuisioner yang memebrikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri
b) Kuisioner tertutup yaitu kuisioner yang jawabannya sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih.
2) Dipandang dari jawaban yang diberikan ada :
a) Kuisioner langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya
b) Kuisioner tidak langsung yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.
3) Dipandang dari bentuknya,maka ada :
a) Kuisioner pilihan ganda yaitu sama dengan kuisioner tertutup
b) Kuisioner isian yang dimaksud adalah kuisioner terbuka
c) Check list, sebuah daftar dimana responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom yang sesuai
d) Rating scale yaitu sebuah pertanyan diikuti oleh kolom yang menunjukan tingkat yaitu mulaidari sangat setuju sampai dengan sangat tidak setuju.
c. Langkah-langkah menyusun angket
Tipe angket yang digunakan adalah tipe pilihan , yaitu subjek diminta untuk memilih salah satu jawaban yang disediakan. Adapun langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut :
1) Membuat definisi konsep
2) Mambuat definisi oprasional
3) Menjabarkan variabel menjadi indikator atau sub indikator
4) Mambuat kisi-kisi
5) Menuliskan item
6) Menetapkan skor
7) Melengkapi instrumen dangan petunjuk pengisian
8) Merevisi ulang
9) Malaksanakan uji coba atau try out .
d. Alasan menggunakan angket.
Setelah melihat kelebihan dan kekurangan angket dan membandingkan dengan metode pengumpulan data lainya maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode angket dengan alasan :
1) Angket dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung.
2) Ssetiap siswa memiliki tingkat kecepatan menawab yang berbeda sehingga angket yang diberikan dapat dijawab oleh responden dalam hal ini siswa menurut kecepatannya masing-masing
3) Angket dapat dibuat anonim dengan hanya mencantumkan nomor absen sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab
4) Karena angket dibuat terstandar sehingga pertanyan dibuat sama.
2. Metode Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:236) metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan ,traskrip, buku, surat kabar, majalah , prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan lain-lain. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1994:256) metode dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyalin data skunder yang sudah tersedia di kantor atau jawaban yang berhubungan dengan objek penelitian
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa metode dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tertulis atau yang dapat diberikan keteranan dengan jalan mempelajari catatan dan data mengenai suatu peristiwa tertentu.
a. Macam-macam dokumen
Dalam rangka pegumpulan data maka dokumen-dokumen yang dapat dijadikan sumber data yaitu catatan traskrip , buku, surat kabar, majalah , prasasti, notulen rapat, legger, agenda, peraturan-peraturan dan lain-lain
b. Alasan memilih metode dokumentasi
Berdasarkan tujuan pengumpulan data yaitu prestasi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung, Batang semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 maka penulis memilih metode dokumentasi dengan alasan sebagai berikut :
1) Data yang tersedia komplet dalam legger nilai .
2) Efisiensi baik dalam waktu maupun biaya
3. Kisi-kisi Instrumen Pengumpulan data
Instrumen penelitian adalah alat yang dugunakan untuk pengumpulan data dalam sebuah penelitian. Sesuai dengan metode pengumpulan data yang dipilih atau ditentukan maka harus dibuat angket sebagai alat pengumpul data.
a. Instrumen Pengumpulan Data Variabel Motivasi belajar.
Definisi operasional, Motivasi belajar adalah dorongan yang muncul dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan yaitu belajar. Indikator Motivasi belajar meliputi Konsentrasi, Perhatian, Pemahaman, Pengamatan, Tanggapan, Reaksi, Ingatan, Berfikir, dan Bakat
1) Menyusun kisi-kisi
Tabel 3.
Kisi-kisi Angket
No
Variabel
Indikator
Sub indikator
No item
Jml
1
Motivasi belajar siswa
Konsentrasi
1. Materi yang menarik
2. Penampilan guru yang menarik
3. Kepedulian guru terhadap siswa
4. Suasana belajar di rumah tidak terganggu
5. Pelaksanaan ulangan harian membutuhkan konsentrasi penuh
6. Dalam belajar sangat membutuhkan konsentrasi
1
2
3
4
5
6
6
Lanjutan tabel 3
2
Perhatian
1. Kepribadian guru yang menyenangkan
2. Sikap memperhatikan guru saat mengajar
3. Guru mengkondisikan perbatian siswa
7
8
9
3
3
Pemahaman
1. Siswa memahami materi yang disampaikan guru
2. Guru memberi kesempatan untuk bertanya
3. Siswa memahami dengan baik penjelasan guru
10
11
12
3
4
Pengamatan
1. Siswa mengamati kepribadian guru.
2. Siswa mengamati setiap aktifitas pembelajaran
13
14
2
Lanjutan tabel 3
5
Tanggapan
1. Siswa memberikan tanggapan yang baik kepada setiap guru
2. Siswa memiliki kesempatan untuk memberikan masukan kepada guru
15
16
2
6
Reaksi
1. Siswa menggunakan panca indera secara maksimal
2. Siswa memberikan reaksi yang positif terhadap setiap tugas
3. Siswa memberikan reaksi yang positif terhadap pembelajaran
17
18
19
3
7
Ingatan
1. Siswa selalu mengingat materi pelajaran.
2. Siswa selau mengingat materi pelajaran ketika ulangan
20
21
2
Lanjutan tabel 3
8
Berfikir
1. Selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
2. Siswa mampu berfikir dengan baik
22
23
6
3. Siswa memiliki motivasi untuk mengulangi lagi prestasi yang dicapai
4. Siswa mendapat suntikan motivasi dari orang tua.
5. Selalu mendaptkan motivasi dari orang-orang disekelilingnya
6. Kemampuan berfikir sangat membantu pencapaian prestasi belajar
24
25
26
27
9
Bakat
1. Motivasi belajar akan berhasil baik apabila diikuti bakat yang baik
28
3
Lanjutan tabel 3
2. Bakat yang dimiliki dapat menumbuhkan motivasi .
3. Bakat harus didukung dengan usaha yang maksimal .
29
30
Jumlah
30
2) Menyusun item
Menyusun item angket berpedoman pada kisi-kisi yang sudah dibuat, dan juga memperhatikan prisnip-prinsip sebagai berikut :
a) Bernilai mengukur tujuan
b) Memperhatikan validitas dan reliabilitas pengukuran
c) Mengandung pengertian tunggal
d) Formalitasnya sederhana
e) Dapat dijawab oleh responden
3) Penyuntingan
Penyuntingan bertujuan agar instrumen memenuhi syarat sebagai instrumen yang baik, perlu dibuat kata pengantar, tujuan dari angket, petunjuk pengisian dan kapan angket harus dikembalikan.
4) Menentukan skor
Penentuan skor dalam penelitan ini adalah :
Jawaban sangat setuju : skor 5
Jawaban setuju : skor 4
Jawaban kurang setuju : skor 3
Jawaban tidak setuju : skor 2
Jawaban sangat tidak setuju : skor 1
b. Instrumen Pengumpulan Data Variabel Prestasi belajar.
Seperti yang dijelaskan dimuka bahwa hasil kerja belajar seseorang yang diperoleh atau dicapai dengan kemampuan yang optimal dalam tes sebagaimana yang dinyatakan dalam skor pada raport. Nilai rapot yang dimaksud adalah nilai raport siswa kelas VII pada semester II Tahun Pelajaran 2010/2011. Untuk memperoleh data tersebut penulis menggunakan metode dokumentasi dari legger nilai siswa kelas VII semester II tahun 2010/2011.
F. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Menurut Arikunto ( 1998: 160 ) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu intrumen. Menurut Arikunto ( 1998:16) validitas ada beberapa macam yaitu :
a. Validitas empiris yaitu validitas yang berdasarkan pengalaman, yang cara pengujiannya ada dua macam :
1) Validitas eksternal apabila data yang dihaislkan dari instrumen sesuai dengan data / informasi lain yang dimaksudkan dalam penelitian.
2) Validitas internal apabila ada keseuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan atau setiap bagian instrumen mendukung “ misi “ instrumen secara keseluruhan.
b. Validitas logis yaitu validitas yang berdasarkan penyusunan instrumen yang sesuai dengan langkah-langkah penyusunan yaitu memecah variabel menjadi sub variabel dan indikator serta memuaskan butir-butir pertamanya
Dalam penelitian ini validitas yang digunakan adalah validitas contruct dan validitas logis. Untuk melakukan uji validitas penulis menggunakan rumus product moment dari Pearson ( Suharsimi Arikunto, 1998,160)
r =
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
åX = jumlah total skor X
åY = jumlah total skor Y
åX2 = jumlah total skor X dikuadratkan
åY2 = jumlah total skor Y dikuadratkan
åXY = jumlah total skor X dikalikan Y
N = jumlah subyek ( responden penelitian )
Hasil penghitungan validitas butir dikonsultasikan dengan r tabel pada taraf siginifikasi 5%. Apabila r xy hitung > r tabel maka butir angket tersebut dikatakan valid
2. Reliabilitas
Instrumen yang reliabel yaitu instrumen yang cukup baik dan mampu mengungkap data yang bisa dipercaya. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataan, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel; artinya dapat dipercaya sehingga dapat diandalkan.(Arikunto , 1998:169)
a. Macam-macam Reliabilitas
Menurut Arikunto ( 1998:170 ) secara garus besar reliabilitas dibedakan menjadi dua yaitu :
1) Reliabilitas eksternal yaitu reliabilitas berdasarkan cara pengujiannya yang ukurannya / kriterianya di luar instrumen
2) Reliabilitas internal yaitu reliabilitas berdasarkan cara pengujiannya yang ukurannnya / kriteria dari instrumen tersebut.
Yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabilitas internal.
b. Teknik yang digunakan dalam rangka mengukur reliabilitas instrumen adalah tekhnik belah dua. Dalam tekhnik ini menggunakan cara membagi item-item alat ukur menjadi dua bagian, kemudian diberikan kepada sekelompok subjek. Hasil dari dua bagian tersebut dikorelasikan, bila ada korelasi berarti alat ukur tersebut reliabel.Hasil perhitungan reliabilitas diatas baru menunjukan harga separoh. Untuk mendapatkan harga secara penuh harus dikonsultasikan dengan rumus dari Spearman Brown sebagai berikut :
2x r 1/21/2
r 11 =
(1 + r 1/21/2)
Keterangan :
r 11 = reliabilitas instrumen
r 1/21/2 = r xy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen
G. Tekhnik Analisa data
Analisa data adalah dalam rangka melakukan uji hipotesis. Tekhnik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Teknik Analisis Deskripsi yaitu pemaparan data-data penelitian meliputi data motivasi belajar siswa dan data prestasi belajar siswa.
2. Tekhnik Analisis Korelasi yaitu untuk mengetahui hubungan antara variabel X dan variabel Y. Untuk melakukan analisis korelasi digunakan rumus korelasi Product Moment dari Pearson yaitu :
r =
Ketarangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
åX = jumlah total skor X
åY = jumlah total skor Y
N = jumlah subyek
Hasil penghitungan dengan menggunakan rumus diatas akan menghasilkan koefisien korelasi rxy, kemudian koefisien tersebut diinterpretasikan dan dikonsultasikan dengan tabel korelasi product moment pada taraf siginikasi 5% .
1. Jika nilai r observasi ( nilai r hitung ) lebih besar atau sama dengan r tabel berarti hasil penelitian menunjukan hasil yang “siginifikan” artinya hipotesis diajukan diterima.
2. Jika nilai r observasi ( nilai r hitung ) lebih kecil dari pada r tabel berarti hasil penelitian menunjukan hasil yang “ non siginifikan” artinya hipotesis yang diajukan ditolak.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian

1. Gambaran umum
SMP Negeri 3 Limpung adalah salah satu dari 3 SMP Negeri yang berada di Kecamatan Limpung Kabupaten Batang. SMP 3 Limpung terletak di perbatasan Kecamatan Limpung dengan Kecamatan Tersono. Secara geografis tidak terlalu menguntungkan dalam hal perekrutan jumlah siswa. Jumlah siswa tidak terlalu banyak hanya terdiri dari 9 rombongan belajar atau 3 kelas paralel untuk masing-masing tingkatan kelas. Kondisi sosial ekonomi orang tua sebagian besar golongan tidak mampu dengan mata pencaharian utama adalah petani dan buruh bangunan. Kondisi ini pula yang menyebabkan SMP 3 Limpung mengalami perkembangan yang lamban karena dukungan orang tua tidak maksimal. Dari segi ketenagaan , SMP 3 Limpung memiliki sejumlah guru yang 90 % berpendidikan sarjana dengan disiplin ilmu yang relevan. Salah satu permasalahan yang sangat mendesak untuk ditangani adalah rendahnya minat dan motivasi belajar. Menurut pengamatan rendahnya minta dan motivasi belajar disebabkan oleh rendahnya angka melanjutkan siswa artinya setelah lulus, jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya relatif sedikit.

50
Dalam rangka pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, SMP 3 Limpung menghadapi sejumlah kendala antara lain , guru belum sepenuhnya menguasai model pembelajaran yang berbasis pada CTL, minimnya sarana dan prasarana serta rendahnya minat belajar siswa. Siswa tidak mempunyai kemampuan untuk membeli buku- buku yang berbasis CTL sedangkan sekolah juga mengalami kekurangan dana dalam penyediaan buku-buku pelajaran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut sekolah mengambil kebijakan yaitu meningkatkan peran perpustakaan untuk menyediakan kebutuhan siswa dan guru terhadap informasi baru dan sejumlah buku-buku sumber bahan pelajaran.
2. Visi dan Misi SMP 3 Limpung
Untuk membangun SMP 3 Limpung maka disusunlah rencana pengembangan sekolah ( RPS ) untuk 5 tahun kedepan. RPS tersebut kemudian dijabarkan kedalam Rencana Operasional ( RENOP ) 1 tahunan sebagai acuan kegiatan sekolah. Dalam mewujudkan cita-cita maka disusunlah visi dan misi sekolah yaitu :
Visi : Terdidik, Terampil Dan Berbudi Pekerti
Misi :
§ Melaksanakan manajemen sekolah yang dapat mendukung terlaksannya kegiatan penddidikan di sekolah
§ Melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga siswa dapat berkembang optimal
§ Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut, sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
§ Melaksanakan kegiatan pengembangan potensi bakat dan minat dalam bidang olah raga
§ Melaksanakan kegiatan pengembangan potensi bakat dan minat dalam bidang seni
§ Melaksanakan kegiatan pengembangan potensi dan minat anak dalam bidang tekhnologi informasi
§ Melaksanakan informasi pembelajaran dengan pendekatan CTL di setiap mata pelajaran.
§ Mewujudkan sekolah sebagai komunitas belajar yang kondusif.
3. Data Guru dan Siswa
a. Jumlah guru dan tata usaha
1) Jumlah guru bidang studi : 16 orang
2) Jumlah guru BP : 1 orang
3) Tata usaha : 4 orang
4) Karyawan/penjaga : 3 orang
b. Jumlah siswa tahun pelajaran 2010/2011
Tabel 4
Jumlah siswa SMP Negeri 3 Limpung
Tahun Pelajaran 2010/2011
Kelas
Jumlah/ Jenis kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
VII
54
64
118
VIII
50
62
119
IX
54
60
114
4. Data Fisik sekolah
a. Ruang kepala Sekolah : 1 buah
b. Ruang guru : 1 buah
c. Ruang Kelas : 9 buah
d. Ruang TU : 1 buah
e. Ruang Perpustakaan : 1 buah
f. Ruang BP/BK : 1 buah
g. Ruang OSIS : 1 buah
h. Ruang UKS : 1 buah
i. Ruang laboratorium IPA : 1 buah
j. Ruang lab. Komputer : 1 buah
k. Mushola : 1 buah
l. Gudang : 1 buah
m. WC Siswa : 4 buah
n. WC guru : 3 buah
o. WC TU : 1 buah
p. Parkir : 1 buah
q. Lapangan Bola voly : 1 buah
r. Lapangan Basket : 1 buah

B. Langkah-langkah Penelitian

1. Persiapan awal penelitian
Sebelum melaksanakan penelitian terlebih dahulu mengadakan persiapan yang berhubungan dengan pengumpulan data yang meliputi :
a. Mengajukan judul skripsi kepada dosen pembimbing yang telah ditujukan oleh ketua jurusan
b. Membuat proposal skripsi yang kemudian diajukan kepada dosen pembimbing dan dimintakan pengesahan dari ketua jurusan dan dekan FIP.
c. Mengurus surat perizinan penelitian dari IKIP Vetaran Semarang untuk SMP Negeri 3 Limpung.
2. Menyusun Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam melakukan penelitian maka penulis menggunakan alat pengumpulan data yaitu angket. Seperti yang telah direncanakan dalam metodologi peneltian maka dalam menyusun angket ini penulis menggunakan langkah-langkah penyusunan angket sebagai berikut :
a. Menyusun kisi-kisi angket
b. Menyusun item angket
c. Melakukan penyuntingan
d. Menentukan skor masing-masing item angket
3. Hasil Analisa Uji Coba Angket
a. Analisa Validitas angket motivasi belajar siswa
Analisis validitas instrumen motivasi belajar siswa yang diberikan kepada 30 responden dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi rentang nilai seperti pendapat Suharsimi Arikunto ( 1998:260) menunjukan bahwa seluruh angket telah terbukti valid atau sahih. Selain itu hasil hitungan rxy dikonsultasikan dengan tabel nilai r product moment pada taraf signifikasi 5% dengan N=30 menunjukan semua angket valid. Data tentang validitas angket tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 5
Data Validitas Angket Variabel Motivasi Belajar
No
urut
No angket
rxy hitung
rxy tabel
signifikasi 5%
Keterangan
1
1
0,504
0,361
Valid
Lanjutan tabel 5
2
2
0,404
0,361
Valid
3
3
0,702
0,361
Valid
4
4
0,618
0,361
Valid
5
5
0,507
0,361
Valid
6
6
0,510
0,361
Valid
7
7
0,492
0,361
Valid
8
8
0,645
0,361
Valid
9
9
0,479
0,361
Valid
10
10
0.779
0,361
Valid
11
11
0,646
0,361
Valid
12
12
0,556
0,361
Valid
13
13
0,443
0,361
Valid
14
14
0,588
0,361
Valid
15
15
0,424
0,361
Valid
16
16
0,440
0,361
Valid
17
17
0,484
0,361
Valid
18
18
0,668
0,361
Valid
19
19
0,698
0,361
Valid
20
20
0,630
0,361
Valid
21
21
0,755
0,361
Valid
22
22
0,416
0,361
Valid
23
23
0,600
0,361
Valid
24
24
0,376
0,361
Valid
25
25
0,427
0,361
Valid
Lanjutan tabel 5
26
26
0.717
0,361
Valid
27
27
0,646
0,361
Valid
28
28
0,725
0,361
Valid
29
29
0,553
0,361
Valid
30
30
0,404
0,361
Valid
b. Analisa Reliabilitas angket motivasi belajar siswa
Untuk menentukan reliabilitas instrumen angket motivasi belajar digunakan analisa dengan menggunakan rumus belah dua. Hasil korelasi dua bagian tersebut kemudian dikosnultasikan dengan rumus belah dua dari Spearman Brown. Hasil perhitungan menunjukan bahwa korelasi belah awal dan belah akhir ( Lampiran 5) menunjukan koefisien sebesar 0,838. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikonsultasikan dengan rumus Spearman Brown menunjukan koefisien r11 sebesar 0,911. Koefisien tersebut dikonsultasikan dengan r11 tabel dengan N=30 sebesar = 0,361. Dengan demikian r11 hitung lebih besar dari r11 tabel sehingga angket motivasi belajar dinyatakan reliabel.
Berdasarkan perhitungan validitas dan reliabilitas tersebut diatas maka instrumen penelitian variabel motivasi belajar telah memenuhi syarat validitas dan reliabilitas sehingga instrumen penelitian variabel motivasi belajar dapat digunakan untuk penelitian sesungguhnya.
Tabel 6
Daftar Nama Siswa Untuk Uji Coba Angket : Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2009/2010.
No
Nama Responden
Kelas
1
Afif Singgih Riftiantara
VII.A
2
Aji Satriyo
VII.A
3
Anis Fuadiyah
VII.A
4
Dewi Astuti
VII.A
5
Dwi Yuliasari
VII.A
6
Eka Nurul Hidayati
VII.A
7
Fifian Rosalina Aryani
VII.A
8
Haryanto
VII.A
9
Hendro Gunawan
VII.A
10
Hesti Cahyaningtyas
VII.A
11
Imam Budi Santoso
VII.B
12
Khairy Othman
VII.B
13
Kharis Aryo Nugroho
VII.B
14
Lina Ardianti
VII.B
15
Muh. Rizki Suwarno
VII.B
16
Kartini
VII.B
17
M. Khoirul
VII.B
18
Mufidah
VII.B
19
Muh. Rizky Fitriyanto
VII.B
20
Mukaromah
VII.B
21
Nanang Suseno
VII.C
22
Nur Imam Afriansah
VII.C
23
Octa Mifta Iftitah
VII.C
24
Ririn Setiowati
VII.C
25
Riska Tiyani
VII.C
Lanjutan tabel 6
26
Riskon Aditama
VII.C
27
Sindy Mulya Sari
VII.C
28
Sindy Saraswati
VII.C
29
Siti Maraisih
VII.C
30
Supriyanto
VII.C

C. Deskripsi Data Penelitian

Dari hasil analisis data penelitian, dapat diperoleh deskripsi data tentang variabel-variabel penelitian sebagai pendukung pembahasan selanjutnya. Dalam penelitian ini jenis data dikelompokan menajdi dua yaitu data tentang motivasi belajar siswa ( X) dan data tentang prestasi belajar siswa (Y).
1. Data variabel motivasi belajar siswa
Angket variabel motivasi belajar siswa terdiri dari 30 item masing-masing item mempunyai lima alternatif jawaban dengan hasil sebagai berikut :
Rerata = 90.13 Median = 90.50
Modus = 94.00 S.B = 5.68
Min = 78.00 Maks = 100.00
Angket diberikan kepada 30 siswa kelas I sebagai sampel penelitian . Distribusi frekuensi data motivasi belajar dengan rumus dari Struges yang dikutip Sugiyono ( 2002,27) sebagai berikut : K = 1 +3,3 log n, dimana K = jumlah kelas interval, N = jumlah data observasi dan Log = Logaritma sehingga diperoleh :
Jumlah kelas = 1 + 3,3 log n
= 1 + 4,918
= 5,918 dibulatkan 6,00
Range = maksimum – minimum
= 100 – 78
= 22
Intervalkelas = 22/6
= 3,5 dipakai 4
Dengan demikian deskripsi persebaran data angket motivasi belajar dapat disampaikan sebaran data sebagai berikut :
Tabel 7
Sebaran Frekuensi Variabel Motivasi Belajar (X)
No
Variat
Frekuensi Absolut
Frekuensi relatif (%)
Frekuensi Kumulatif (%)
1
98 - 100
3
10,00
100,00
2
94 – 97
7
23,33
90,00
3
90 – 93
6
20,00
66,66
4
86 - 89
8
26,66
46,66
5
82 – 85
3
10,00
20,00
6
78 – 81
3
10,00
10,00
Jumlah Total
30
100.00
Berdasarkan tabel diatas dapat dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Menurut Suharsimi Arikunto ( 1990 ) batas-batas pengelompokan kategori tersebut adalah :
a. Batas antara kelompok rendah dengan kelompok sedang adalah satu simpang baku dibawah rata-rata ( Mean –1 SD )
b. Batas antara kelompok sedang dan kelompok tinggi adalah satu simpang baku di atas rata-rata ( Mean + 1 SD )
c. Kelompok sedang adalah batas antara kelompok rendah dengan kelompok tinggi ( Mean – 1 SD s.d Mean +1 SD )
Berdasarkan perolehan skor di atas dapat dihitung :
a. Mean = ½ ( skor tertinggi + skor terendah )
= ½ ( 100 + 78 )
= ½ ( 178)
= 89
b. Standar Deviasi /SD
= 1/6 ( skor tertinggi - skor terendah )
= 1/6 ( 100 - 78 )
= 1/6 ( 22)
= 3.66
c. Katagori
1). Tinggi = M + 1 SD sampai skor tertinggi
= 89,00 + 3.66 sampai 100
= 92,66 sampai 100
2). Sedang = M -1 SD sampai M+1SD
= 89,00 - 3.66 sampai 89,00 + 3,66
= 84.34 sampai 92,66
3). Tinggi = skor terendah sampai M - 1 SD
= 78,00 sampai 84,34
Dari perhitungan di atas dapat dibuat tabel pengelompokan kategori sebagai berikut :
Tabel 8
Pengelompokan kategori
No
Kategori
N
Persentase
1.
2.
3.
Tinggi = 92.66 – 100.00
Sedang = 84,34 – 92.66
Rendah = 78.00 – 84.34
13
12
5
43,3
40,0
16,6
Jumlah
30
100
Berdasarkan pengelompokan kategori tersebut , dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar di kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang pada semester II Tahun Pelajaran 2010 / 2011 tergolong tinggi. Dari tabel sebaran frekuensi dapat dibuat grafik histogram sebagai berikut
Gambar 1
Histogram Motivasi belajar
2. Data variabel Prestasi belajar siswa
Dari leger nilai responden penelitian kelas VII semester II tahun Pelajaran 2010/2011 diperoleh data sebagai berikut :
Rerata = 81,70 Median = 82,50 Modus =85,00 S.B = 5,85 Min = 69,00 Maks = 92,00
Distribusi frekuensi data prestasi belajar diolah dengan rumus dari Struges yang dikutip Sugiyono ( 2002,27) sebagai berikut : K = 1 +3,3 log n, dimana K = jumlah kelas interval, N = jumlah data observasi dan Log = Logaritma sehingga diperoleh :
Jumlah kelas = 1 + 3,3 log n
= 1 + 4,918
= 5,918 dibulatkan 6,00
Range = maksimum – minimum
= 92 – 69
= 23
Interval kelas = 23/6 , = 3,8 dibulatkan 4
Dengan demikian deskripsi persebaran data angket motivasi belajar dapat disampaikan sebaran data sebagai berikut :
Tabel 9
Sebaran Frekuensi Variabel Prestasi Belajar Siswa ( Y)
No
Variat
Frekuensi Absolut
Frekuensi relatif (%)
Frekuensi Kumulatif (%)
1
89 – 92
2
6,66
100,00
2
85 – 88
11
36,66
93,32
3
81 – 84
8
26,66
56,66
4
77 – 80
3
10,00
30,00
5
73 – 76
3
10,00
20,00
6
69 – 72
3
10,00
10,00
Jumlah Total
30
100.00
Berdasarkan tabel diatas dapat dikelompokan menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Menurut Suharsimi Arikunto ( 1990 ) batas-batas pengelompokan kategori tersebut adalah :
a. Batas antara kelompok rendah dengan kelompok sedang adalah satu simpang baku dibawah rata-rata ( Mean –1 SD )
b. Batas antara kelompok sedang dan kelompok tinggi adalah satu simpang baku di atas rata-rata ( Mean + 1 SD )
c. Kelompok sedang adalah batas antara kelompok rendah dengan kelompok tinggi ( Mean – 1 SD s.d Mean +1 SD )
Berdasarkan perolehan skor di atas dapat dihitung :
a. Mean = ½ ( skor tertinggi + skor terendah )
= ½ ( 92 + 69 )
= ½ ( 178)
= 80,5
b. Standar Deviasi /SD
= 1/6 ( skor tertinggi - skor terendah )
= 1/6 ( 92 - 69 )
= 1/6 ( 13)
= 2.16
c. Katagori
1). Tinggi = M + 1 SD sampai skor tertinggi
= 80,50 + 2.16 sampai 92
= 82,66 sampai 100
2). Sedang = M -1 SD sampai M+1SD
= 80,50 - 2.16 sampai 80,50 + 2,16
= 78.34 sampai 82,66
3). Tinggi = skor terendah sampai M - 1 SD
= 69,00 sampai 78,34
Dari perhitungan di atas dapat dibuat tabel pengelompokan kategori sebagai berikut :
Tabel 10
Pengelompokan kategori
No
Kategori
N
Persentase
1.
2.
3.
Tinggi = 82.66 – 92.00
Sedang = 78,34 – 82.66
Rendah = 69.00 – 78.34
15
7
8
50,00
23,33
26,66
30
100
Berdasarkan pengelompokan kategori tersebut , dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang pada semester II Tahun Pelajaran 2010 / 2011 tergolong tinggi. Dari tabel sebaran frekuensi tersebut dapat dibuat grafik histogram sebagai berikut :
Gambar 2
Histogram Prestasi Belajar

D. Hasil Korelasi Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar.

Untuk mengetahui besarnya korelasi antara variabel motivasi belajar siswa ( X) dengan variabel prestasi belajar siswa ( Y ) digunakan rumus korelasi product moment dari Pearson sebagai berikut :
r =
Ketarangan :
rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
åX = jumlah total skor X
åY = jumlah total skor Y
N = jumlah subyek
Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus tersebut diatas seperti pada lampiran 9 ( halaman 88 ) diperoleh rxy hitung sebesar 0,667. Koefisien korelasi tersebut dikonsultasikan dengan tabel r pada taraf signifikasi 5% yaitu sebesar 0,361 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi antar motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VII semester II SMP negeri 3 Limpung Tahun Pelajaran 2010/2011 sebab dari perhitungan koefisien rxy hitung sebesar 0,667 lebih besar dari r tabel sebesar 0,361.

E. Uji Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang pada semester II Tahun pelajaran 2010 / 2011
Hasil penghitungan dengan menggunakan rumus korelasi product moment akan menghasilkan koefisien korelasi rxy, kemudian koefisien tersebut diinterpretasikan dan dikonsultasikan dengan tabel korelasi product moment pada taraf siginikasi 5% dan 1% dengan ketentuan :
1. Jika nilai rxy observasi ( nilai r hitung ) lebih besar atau sama dengan r tabel berarti hasil penelitian menunjukan hasil yang “siginifikan” artinya hipotesis diajukan diterima.
2. Jika nilai rxy observasi ( nilai r hitung ) lebih kecil dari pada r tabel berarti hasil penelitian menunjukan hasil yang “ non siginifikan” artinya hipotesis yang diajukan ditolak.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus product moment diperoleh rxy hitung sebesar 0,667. Koefisien korelasi tersebut dikonsultasikan dengan tabel r pada taraf signifikasi 5% yaitu sebesar 0,361 Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Kabupaten Batang pada semester II Tahun pelajaran 2010 / 2011 diterima sebab dari perhitungan koefisien rxy hitung sebesar 0,667 lebih besar dari r tabel sebesar 0,361.

F. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Deskripsi data penelitian pada variabel X tentang motivasi belajar menunjukan bahwa tingkat motivasi belajar siswa SMP Negeri 3 Limpung khsusnya kelas VII termasuk dalam kategori tinggi. Data motivasi belajar siswa menunjukan rerata = 90.13, Median= 90.50, Modus= 94.00, skor terendah = 78.00 dan skor tertinggi = 100.00. Data tersebut diolah dan dikelompokan dalam tabel kategori dan masuk dalam kategori tinggi. Data tersebut juga didukung hasil observasi yang menunjukan bahwa motivasi belajar siswa kelas VII dimana siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi terlihat dari semangat belajar, kekatifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, dukungan orang tua serta keinginan mereka dalam mencapai cita-cita.
2. Deskripsi data penelitian pada variabel Y tentang prestasi belajar menunjukan bahwa tingkat prestasi belajar siswa SMP Negeri 3 Limpung khsusnya kelas VII termasuk dalam kategori tinggi. Data prsetasi belajar siswa menunjukan rerata = 81,7 Median= 82,5, Modus= 85.00, skor terendah = 69.00 dan skor tertinggi = 92.00. Data tersebut diolah dan dikelompokan dalam tabel kategori dan masuk dalam kategori tinggi.
3. Hasil uji hipotesis menunjukan adanya hubungan yang positif dan siginifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung. Koefisien korelasi antara kedua variabel menunjukan angka yang signifikan dan positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan mencapai prestasi belajar yang tinggi pula. Sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah akan memiliki prestasi beljar yang rendah pula. Motivasi belajar hanyalah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dengan demikian tidak menutup kemungkinan faktor lain yang mempengaruhi prestasi beljar siswa yang tidak menjadi bahasan dalam penelitian ini.
Dari hasil penelitian ini berakibat pada adanya upaya untuk selalu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa menjadi meningkat,
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Deskripsi data penelitian pada variabel X tentang motivasi belajar menunjukan bahwa tingkat motivasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 43,3%. Data tersebut juga didukung hasil observasi yang menunjukan bahwa motivasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung dimana siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi terlihat dari semangat belajar, kekatifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, dukungan orang tua serta keinginan mereka dalam mencapai cita-cita.
2. Deskripsi data penelitian pada variabel Y tentang prestasi belajar menunjukan bahwa tingkat prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung termasuk dalam kategori tinggi yaitu 50%.
3.

69
Ada hubungan yang positif dan siginifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung. Koefisien korelasi antara kedua variabel menunjukan angka yang signifikan dan positif sebab data menunjukan harga rxy hitung untuk N=30 menunjukan angka 0,667 lebih besar dari harga r tabel pada taraf signifikasi 5% sebesar 0,361. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan mencapai prestasi belajar yang tinggi pula. Sedang siswa yang memiliki motivasi belajar rendah akan memiliki prestasi yang rendah.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang menyatakan Ada hubungan yang positif dan siginifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Limpung Tahun Pelajaran 2010/2011 maka disampaikan saran sebagai berikut :
1. Bagi siswa
Karena dari hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan yang positif terhadap pencapaian prestasi belajar maka disarankan agar siswa selalu memelihara dan meningkatkan motivasi belajar. Selain itu siswa perlu memelihara dan meningkatkan faktor-faktor lain yang memepengaruhi prestasi belajar misal minat, sarana, kondisi fisik dan psikis dan lain-lain.
2. Bagi orang tua
Kepada orang tua atau wali murid disarankan untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam pencapaian prestasi belajar siswa dengan cara memberikan dan memompa semangat belajar siswa, menyediakan sarana belajar dan lain-lain sehingga motivasi belajar siswa selalu terpelihara.
3. Bagi guru pembimbing
Guru pembimbing diharapkan secara konsisten dan kontinu untuk selalu memberikan bimbingan kepada siswa sehingga motivasi belajar siswa selalu terpelihara dan meningkat. Dengan motivasi yang terpelihara dan selalu meningkat maka prestasi belajar menjadi meningkat pula
4. Bagi peneliti selanjutnya
Perlu adanya penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sehingga hasilnya lebih baik dan mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Muhamad, Prestasi belajar , Artikel 29 Mei 2008
Ahmad Sugandi, 2004, Teori Pembelajaran, Semarang: UPT MKK UNNES
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakara,Balai Pustaka.

Depdikbud, Metodologi Pembelajaran Bahan sajian Untuk Penataran Intruktur, Malang: PPPG IPS,1997


Dimyati dan Mudjiono,
1999, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:Rineka Cipta

M.Sobry Sutikno dan Pupuh Fathurahman,2007, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, Jakarta: PT. Refika Aditama
Ditjen Dikdasmen 2003, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional,Jakarta : Bagian Proyek Penilaian Hasil Belajar Tahap Akhir Nasional
http:/sunartotombs.wordpress.com, Pengertian motivasi belajar.2010

Ngalim Purwanto
, 1996, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik,1996, Psikologi Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Ridwan, Belajar,Minat,Motivasi dan Prestasi belajar , Artikel 3 Mei 2008
Sardiman, AM, 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar, Jakarta: Grafindo Persada.
Slameto, 1995 Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugiyono,2002,Statistik Untuk Penelitian,Bandung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto, 1998 Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Sumadi Suryabrata,1993, Psikologi Pendidikan , Jakarta, Grafindo Persada.
Sutrisno Hadi, 1996,Statistik Jilid I,Yogjakarta : YP Fakultas Psikologi UGM
Thursan Hakim, 2005, Belajar Secara Efektif, Jakarta: Puspa Swara

Slameto,2003, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta
Tim MKDK IKIP Semarang,1996, Belajar dan Pembelajaran ,Semarang :IKIP Press.
Tim Penulis Buku Psikologi Pendidikan ,1991, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta:FIP-IKIP Yogyakarta
Udin S Winataputra , 2008, Teori Belajar dan Pembelajaran ,Jakarta: UT
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003, 2004, Semarang : Aneka Ilmu,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar